JAKARTA - Pergerakan pasar saham Indonesia pada awal pekan ini diperkirakan memasuki fase konsolidasi setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak reli signifikan sepanjang pekan lalu.
Sejumlah analis menilai penguatan yang telah terjadi membuka ruang jeda bagi investor untuk mencermati level support dan resistance, sekaligus memilah saham-saham potensial untuk strategi jangka pendek.
Pada perdagangan Senin, 12 Januari 2026, pelaku pasar dihadapkan pada dinamika teknikal IHSG yang berada di area tinggi, menyusul kenaikan mingguan yang cukup solid. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada pekan lalu menguat 2,16% dan ditutup di level 8.936,754 pada Jumat (9/1/2026), dari posisi 8.748,132 pada penutupan pekan sebelumnya.
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan bahwa penguatan tersebut bahkan sempat membawa IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Pada Rabu, 7 Januari 2026, indeks ditutup di level 8.944,813, menandai tonggak baru dalam sejarah pasar modal Indonesia.
“Kemudian pada Kamis, 8 Januari 2026, IHSG juga berhasil menembus level psikologis 9.000 secara intraday, dengan puncak tertinggi mencapai 9.002,92,” tulis Kautsar dalam siaran resmi.
Seiring penguatan indeks, kapitalisasi pasar BEI turut mengalami peningkatan. Dalam sepekan, kapitalisasi pasar naik sebesar 1,79% menjadi Rp16.301 triliun, dari posisi Rp16.014 triliun pada pekan sebelumnya. Capaian tersebut mencerminkan tingginya minat beli investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar maupun menengah.
Dari sisi teknikal, Tim Analis MNC Sekuritas menilai posisi IHSG saat ini berada pada bagian dari wave (v) dari wave [iii]. Dengan struktur pergerakan tersebut, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan terbatas pada rentang 9.030–9.077.
Namun demikian, analis mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai potensi koreksi jangka pendek. “Waspadai akan adanya koreksi yang diperkirakan menguji 8.843–8.904,” demikian dikutip dari riset harian MNC Sekuritas.
Adapun secara teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak pada area support di level 8.867 dan 8.806, dengan resistance di kisaran 8.996 dan 9.030. Dalam kondisi pasar seperti ini, MNC Sekuritas menyarankan strategi selektif dengan memanfaatkan pelemahan harga untuk akumulasi saham tertentu.
Sejumlah saham direkomendasikan dengan strategi buy on weakness, antara lain saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA). Sementara itu, untuk investor dengan profil risiko lebih agresif, MNC Sekuritas merekomendasikan speculative buy pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI).
Sementara itu, pandangan berbeda disampaikan oleh Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan. Ia menilai meski IHSG ditutup di zona hijau, terdapat kontras yang perlu dicermati investor, khususnya dari sisi nilai tukar rupiah.
Menurut Valdy, rupiah kembali melemah ke level Rp16.819 per dolar AS di pasar spot, meski indeks saham domestik menunjukkan penguatan. “Penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan rupiah yang dipicu ekonomi AS yang masih kuat, sementara indikator ekonomi domestik cenderung melemah,” ujar Valdy.
Secara teknikal, Valdy menyoroti sinyal kewaspadaan dari indikator Stochastic RSI yang telah membentuk pola death cross di area overbought. Meski histogram MACD masih berada di zona positif, momentum penguatan dinilai mulai kehilangan tenaga.
“Diperkirakan IHSG akan cenderung berkonsolidasi pada kisaran 8.860–9.000 pada pekan depan, selama tidak ditutup di atas level 9.000,” tambahnya.
Untuk proyeksi sepekan ke depan, Phintraco Sekuritas memperkirakan area support indeks berada di level 8.800, dengan pivot di 8.900 dan resistance kuat di level psikologis 9.000. Pola pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih membutuhkan katalis baru untuk menembus level yang lebih tinggi secara berkelanjutan.
Kondisi pasar modal Indonesia juga dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya pergerakan bursa Asia yang cenderung variatif di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Valdy mencatat inflasi China pada Desember 2025 naik ke level 0,8% secara tahunan (year on year/YoY), tertinggi sejak Februari 2023. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya harga pangan yang mulai menjadi pendorong utama inflasi di Negeri Tirai Bambu.
Dari dalam negeri, indikator ekonomi menunjukkan gambaran yang beragam. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 tercatat melemah ke level 123,5, turun dari 124 pada bulan sebelumnya. Pelemahan ini dipicu oleh penurunan pada sebagian besar dari enam sub-indeks utama.
Meski demikian, sektor riil masih menunjukkan ketahanan. Penjualan sepeda motor pada Desember 2025 tercatat naik 14,5% secara tahunan menjadi 461.925 unit, menandakan daya beli masyarakat di segmen tertentu masih terjaga.
Menyikapi potensi konsolidasi pasar, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati dalam perdagangan pekan depan. Saham-saham tersebut antara lain PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk. (CENT), PT Samator Indo Gas Tbk. (AGII), PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL), PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), dan PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR).
Dengan kondisi pasar yang bergerak dinamis, analis menyarankan investor tetap disiplin menerapkan manajemen risiko serta mencermati pergerakan teknikal dan sentimen global sebelum mengambil keputusan investasi.